Bicara adalah kebutuhan, bicara adalah wujud apresiasi pada eksistensi diri maupun wujud penghormatan sekaligus kritikan terhadap lawan bicara atau sesuatu hal. Sebagai warga negara penganut sistem yang dikatakan demokrasi (di satu sisi mengatakan masih dalam tataran demokrasi prosedural, sisi lain berbicara demokrasi yang mapan, sisi berseberangan mengatakan demokrasi yang "kebablasan") rasa rasanya sah saja apabila kita bicara tentang apapun, hanya saja dalam rambu norma ketimuran. Namun, hari ini di mana saja dapat kita lihat sekaligus dipertanyakan norma ketimuran yang mana? dan demokrasi seperti apa yang seharusnya kita teguk kebaikannya. Apa masih berlaku adat ketimuran kita apabila serangan media bertubi - tubi merangsek menyerbu generasi muda? batasan Agama dan Pancasila seringkali dianggap hanya sebuah "sejarah" yang tertulis dalam buku, terbaca sih....namun tanpa praktek nyata. Coba saja tanya tetangga kita hafal tidak 5 butir Pancasila sekaligus lambangnya?. Kembali lagi mengenai kebebasan berbicara, susah memang membatasi kebebasan berbicara, jangankan membatasi demonstrasi mendemo presiden saja bisa, apalagi cuma bicara tidak jelas kesana kemari, BEBAS se BEBASnya....hanya saja perlu dipikir ulang bagi yang ingin berpikir sebelum bicara mengenai apapun karena "akeh tunggale" (baca :banyak orang) mampu mengkritik, tapi tidak banyak orang bisa melakukan perubahan maupun perbaikan. berikut ini mungkin bisa dikaji dan menjadi bahan renungan.
Perlu dan penting kah yang akan anda ucapkan? segala sesuatu yang meluncur dari mulut bisa jadi anugerah, tapi juga bisa jadi bumerang di hari lain, seperti ungkapan mulutmu harimau mu!! singkat sih, tapi mengena dan mengingatkan kita untuk menjaga perkataan. Apabila yang anda katakan hanya untuk kesenangan pribadi, mengejek, mengolok, membicarakan keburukan orang, dimana letak pentingnya? perlu mungkin dari view anda pribadi karena biasanya orang yang kelewat hobi bicara akan "pinter ngomong" bukan "ngomong pinter" seakan anda ini paling benar sejagad dan biasanya disertai bumbu "ngeyel" dengan seabreg alasan yang lagi - lagi pribadi. Lain cerita apabila perkataan kita mengandung manfaat untuk orang lain, misalnya informasi kemacetan di jalan xxx supaya pengendara menghindari jalan itu. Jadi, pikir - pikir dulu lah sebelum bicara. Sebuah ungkapan kuno tapi di berbagai situasi bisa digunakan "diam adalah emas", ada waktu tertentu memang lebih baik kita diam daripada yang kita katakan menyakiti/menyinggung orang lain (bukan berarti berbohong itu lebih baik daripada kejujuran), jika tidak bermanfaat untuk umum buat apa bicara hal tidak penting. Penting juga sebagai catatan, mengemukakan ide maupun pendapat itu hal penting, dan dalam case satu ini, bicara itu sebuah keharusan karena disitulah letak eksistensi diri manusia, pengakuan ide dan kreatifitas perlu diutarakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar